Jumat, 28 Oktober 2011

NASKAH MERTASINGA: KISAH SUNAN KALIJAGA DI CIREBON ( III )

SUNAN KALIJAGA WAFAT 
(pupuh LXIII.01 - LXIII.09)
Di Pakungwati Sunan Kalijaga tinggal di Dalem Agung. Tak lama kemudian diceritakan bahwa Sunan Kalijaga menderita sakit kepala, sejak itu Sunan dijaga oleh dua orang santri yang bernama Ki Memek dan Ki Cengal. Waktu itu Panembahan tidak mau menempati Dalem Agung, dan dia membangun tempat tinggal lain yang halamannya hampir menjadi satu dengan Dalem Agung. Sesuai dengan keinginan Panembahan, di sekelilingnya dibangun tembok. Rancangan tembok itu persegi sama lebarnya, sama dengan Gedeng Kiring kecuali ke arah timurnya mengikuti pesisir, ke selatan hingga di Kasuneyan. Ini berbeda dengan keadaan dahulu pada jamannya Sinuhun Jati, hal mana karena Sinuhun Jati selamanya tak pernah mencurigai musuh, malahan musuhnya lah yang ketakutan sendiri .
Dikisahkan bahwa sakitnya Sunan Kalijaga menjadi semakin parah, dan tidak lama kemudian beliau wafat. Kedua punakawan yang bertugas menjaganya segera memberitahukan kepada Panembahan, "Paduka tuan, hamba memberitahukan bahwa buyut Paduka Tuan telah wafat". Mendengar berita itu Panembahan Ratu segera datang untuk menyempurnakan jenazahnya. Akan tetapi ketika Panembahan tiba, dia tidak dapat menemukannya lagi, yang tinggal hanya kain penutupnya saja. Oleh karena itu maka  yang dikuburkan pun  hanya kain penutup itu saja sebagai gantinya. Dikuburkannya di sebelah timur dari mihrabnya Mesjid Agung Carbon. Setelah selesai penguburan di mesjid itu, lalu tembok pagar mihrab mesjid itu ditambah, sehingga yang mencuat seperti bentuk jantung pisang menjadi tengahnya mihrab.

Rabu, 26 Oktober 2011

NASKAH MERTASINGA: KISAH SUNAN KALIJAGA DI CIREBON ( II )

WANGSIT SUNAN KALIJAGA KEPADA PANEMBAHAN RATU
(pupuh LXVI.04 - LXVI.20)

Diceritakan sebuah peristiwa di Pakungwati semasa pemerintahan Panembahan Ratu, peristiwa ini terjadi sebelum wafatnya Sunan Kalijaga. Di dunia ini memang banyak hal-hal yang gemerlapan yang dapat dilihat. Diceritakan Ki Palidada hatinya merasa sedih mengingat akan keberuntungan junjungannya. Dibandingkan dengan apa yang diperoleh oleh raja-raja seberang. Dia selalu memikirkannya bagaimana caranya untuk mengikuti jejak mereka. Pikirnya, raja dari seberang itu dagangannya selalu untung, sedangkan tuannya Panembahan rejekinya morat-marit. Oleh karena itu Ki Palidada kemudian menghadap Panembahan dan disampaikannya keresahannya. Ki Palidada berkata bahwa dia sanggup untuk membantu kehidupan Panembahan seperti halnya negara-negara yang lain. Atas usul itu Panembahan Ratu berkata, "Palidada aku harus berdagang apa?". Dijawab Ki Palidada, "Kita akan berdagang beras, karena besar keuntungannya". Mendengar bujukan itu Panembahan setuju dan segera memerintahkan untuk menyiapkan beras. Tak lama kemudian karung-karung beras telah menumpuk di pantai seperti gunung, dan sudah disiapkan juga perahunya.
Di tengah kesibukan demikian dikisahkan datang seorang pengemis yang menyodor-nyodorkan tempurungnya. Katanya, "Tuan, hamba minta beras untuk menghilangkan lapar, sekedar segenggam saja", berkata demikian sambil terus menyodor-nyodorkan tempurungnya. Melihat itu Ki Palidada merasa terganggu dan berkata dengan kasar serta mata membelalak, "He keparat kamu, apa kamu tidak melihat bahwa beras ini sudah dikarungi semua, tak bisa dibongkar lagi".
Akan tetapi pengemis itu masih juga merajuk meminta-minta. Begitulah Palidada amarahnya tidak tertahankan lagi, tangannya diangkat akan menempeleng pengemis itu. Akan tetapi tiba-tiba tangannya itu menjadi kejang, dan dia pun mengangkat kakinya akan menendang si pengemis, akan tetapi kaki Ki Pali yang satu itu pun tetap terangkat keatas dan tak bisa turun lagi sehingga dia jatuh terguling. Ki Pali menjerit berguling-guling di tanah dan orang-orang segera berdatangan memberikan pertolongan. Apa yang telah terjadi kepada Ki Pali itu segera dilaporkan kepada Panembahan Ratu. Berkata Panembahan Ratu, "Pengemisnya seperti apa?". Yang ditanya menjawab, "Pengemis itu kakinya belang, dan juga kedua tangannya. Entah dimana tempat tinggalnya".
Mendengar itu Panembahan Ratu kemudian berkata, "Bilamana demikian, bawalah Ki Palidada segera ke hadapan eyang Kalijaga, dan suruh Ki Pali untuk bertobat kepadanya. Jangan lupa untuk membawa beras sebanyak sepuluh dacin dan katakanlah itu sebagai baktiku". Maka para abdi itu segera melakukan perintahnya dengan patuh. Dengan menggotong Ki Palidada dan karung beras, mereka pergi menuju ke Kalijaga menghadap sang Aulia. Di hadapan Sunan Kalijaga, Ki Pali bertobat sambil menangis, "Kanjeng Gusti hamba mohon diberi hidup", demikian permohonannya. "Baiklah permintaanmu kuterima", ujar wali. Setelah sang Wali berkata demikian Ki Palidada segera sembuh kembali seperti sediakala. Kemudian berkata Ki Palidada, "Terima kasih banyak Kanjeng Gusti Wali", sambil menyembah berkali-kali, "dan ini hamba sampaikan bakti hamba, beras banyaknya sepuluh pikul".
Berkata sang wali, "Mengenai beras berdacin-dacin yang kau bawa kehadapanku itu, apa maksudmu". Ki Pali berkata, "Itu adalah baktinya tuanku Panembahan Pakungwati, untuk dipersembahkan kepada tuan. Berkah tuanlah  yang diharapkan". Sang Wali menjawab, "He Palidada, kebaikan tuanmu itu kuterima. Akan tetapi sekarang beras itu bawalah pulang lagi, aku tak menginginkannya. Mustahil karena peristiwa itu tuanmu menjadi durhaka, aku tak seperti itu. Memang betul tadi aku mengemis beras sebatok kecil untuk pengobat lapar, akan tetapi Palidada aku tak mengharapkan banyak. Sekarang sudahlah, semua itu bawa kembali lagi saja".
Segera Ki Palidada permisi pulang dan setelah sampai lalu menyampaikan apa yang didengarnya kepada tuannya. Mendengar itu Panembahan lalu berkata, "Sekarang ya sudahlah, dalam hal dagang itu kita batalkan saja. Kita yang ada di Carbon ini tak boleh berdagang, hingga anak keturunanku kelak. Itulah yang menjadi wangsit, janganlah kita salah terima, Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga telah memberikan wangsitnya. Tidak ada wali yang bohong atau keliru dan membuat fitnah, serta sembarangan dalam perbuatannya".
Lalu Ki Palidada pun segera membatalkan pekerjaannya, beras-beras dari pinggir pantai diambil lagi dan kemudian dibagikan kepada semua pengikutnya, para buyut dan seluruh rakyat kecil. Semua senang hatinya atas kebaikan rajanya itu. Para buyut semua menyaksikan bahwa anak cucu Carbon tidak diijinkan dalam perkara dagang itu. Yang memberikan wangsit adalah leluhurnya raja wali, dengan demikian kita harus selalu bersyukur.

Kamis, 20 Oktober 2011

NASKAH MERTASINGA: KISAH SUNAN KALIJAGA DI CIREBON ( I )

KISAH MERBOT JARUMAN 
(pupuh LXI.12 - LXII.08)

Dikisahkan pada suatu ketika di Carbon ada seorang santri yang datang dari timur yang bernama Merbot Jaruman. Dia datang ke Carbon dan ingin mengabdi kepada Pangeran Agung. Pada suatu malam Jum'at Pangeran Agung bermimpi mendengar suara, "He Pangeran Agung, di mesjid ada seorang kakek yang bernama Ki Merbot Jaruman, perintahkanlah dia untuk menjadi imam Jum'at. Jangan tidak kau perintahkan dia menjadi imam". Keesokan harinya Pangeran Agung melaksanakan apa yang didengarnya itu., dan menunjuk Merbot Jaruman untuk menjadi Imam. "Mohon maaf", kata sang Jaruman, "hamba tak bisa menjadi imam". Akan tetapi ia dipaksa terus sampai akhirnya mau menjadi imam. Ketika Marbot Jaruman menjadi imam, setelah takbir dia diam berdiri tak mengeluarkan suara sedikit pun. Mulutnya terkunci dan hanya berdiri saja. Tubuhnya kaku bagai-kan patung, dia tidak membaca Al 'Fatihah, tidak ruku dan juga tidak sujud. Semua yang menjadi ma'mum menunggu, sehingga kemudian Pangeran Agung menggantikannya. Setelah selesai sholat sang Merbot segera dibangunkan.

Jum'at berikutnya hal yang sama terjadi lagi,  sehingga Jum'at berikutnya lagi Pangeran Agung lah yang menjadi imam, yang diikuti oleh ma'mum semua. Setelah selesai sholat lalu mereka berkumpul untuk membicarakan hukuman apa yang harus dijatuhkan kepada Marbot Jaruman. Ki Marbot berkata, "Untuk menebus kekecewaan Paduka tuan, hamba akan sangat berterimakasih bilamana hamba dihukum. Hamba telah tidak mampu menjadi imam, walaupun hamba dipaksa. Silahkan hamba dihukum mati saja". Pangeran Agung lalu memerintahkan kepada para sentana mantrinya untuk membuat panggung di alun-alun dan kemudian di bawahnya dinyalakan api unggun. Ki Jaruman lalu dinaikan ke atas panggung itu dari lohor hingga magrib, namun apa yang terjadi ternyata Marbot Jaruman tidak terluka sedikitpun.

Sementara itu Tubagus Pase baru tiba dari seberang, dan dia pergi melihat apa yang tengah terjadi di alun-alun. Setelah mengetahui apa yang terjadi Tubagus Pase menjadi sangat marah kepada cucunya, "Anakku mengapa kau lakukan ini, tidakkah kau tahu siapa yang berada di atas pembakaran itu? Dia adalah buyutmu wali, segeralah engkau bertobat anakku, barangkali engkau tidak mengetahui, Merbot Jaruman itu adalah Sunan Kalijaga, Aulia Allah yang tinggal satu, yang ada di tanah Jawa". Betapa terkejutnya Pangeran Agung mendengar hal tersebut, kepada Tubagus Pase dikatakannya: "Eyang, hamba benar-benar tidak mengetahui, karena waktu datang eyang mengaku sebagai santri dari timur yang bernama Kyai Merbot Jaruman. Kemudian pada waktu malam Jum'at hamba bermimpi ada yang menyuruh hamba agar Ki Merbot Jaruman menjadi imam, sehingga kujalankan perintah itu. Ternyata ketika bisikan itu hamba laksanakan, sebagai imam waktu setelah takbir Ki Merbot Jaruman diam tak bergerak ataupun sujud sehingga hamba akhirnya meneruskan menjadi imam. Setelah selesai sholat, ketika hamba bangunkan Ki Merbot juga tak bisa bangun dan tinggal diam seperti tugu besi. Pada Jum'at berikutnya eyang wali mengikuti hamba yang menjadi imam, sesungguhnya bukanlah maksud hamba untuk mengajari. Hamba mohon belas kasihan eyang, semoga eyang mau memaafkan hamba baik di dunia maupun di akhirat". Sunan Kalijaga telah memaafkan cucunya itu, demikian juga kepada orang banyak lainnya yang telah menghukumnya. Itulah awalnya bahwa jika ada orang yang sholat Jum'at dan tak melakukannya dengan benar maka pasti dia akan mendapat hukuman. Juga ada cerita bahwa besok di akhir jaman, jika ada Merbot yang bersedia menaiki soboluhung  pasti dia akan menjadi waliyullah yang utama.

Sabtu, 15 Oktober 2011

NASKAH MERTASINGA: SILSILAH SULTAN GIRILAYA MENURUT NASKAH INI.

Menurut “Sundakala” (Ayat Rohaedi, 2005) mengacu pada Pustaka Negara Kertabhumi dikisahkan bahwa Panembahan Girilaya menikah dengan putri dari Amangkurat I, yang menurunkan Pangeran Mertawijaya atau Pangeran Syamsuddin yang menjadi Sultan Kasepuhan I; adiknya Pangeran Kertawijaya atau Pangeran Badridin yang menjadi Sultan Kanoman I dan adiknya yang bungsu Pangeran Wangsakerta yang menjadi Panembahan Cerbon I.
Namun Naskah Mertasinga mengisahkan hal yang berbeda. Dikisahkan bahwa Panembahan Girilaya menikah dengan putri dari Negara Surat (Surat Thani, Thailand Tenggara) yang menurunkan Pangeran Sepuh dan dengan Rara Mas Kirani putri Dipati Ukur Muda atau Arya Jagasatru yang menurunkan Pangeran Anom.
Mengenai isteri dari Mataram, dalam bagian lain dari naskah Mertasinga dikisahkan bahwa Panembahan Girilaya juga menikah dengan Ratu Sidapulin dari Mataram yaitu sebagai ‘pertukaran’ dengan  Dewi Tanuran Gagang (baca: http://akinamikaya-01.blogspot.com/2011/09/naskah-mertasinga-putri-pajajaran-yang.html ). Namun tidak jelas apakah sang putri adalah puteri dari Amangkurat I atau bukan.

Berikut uraian dalam naskah Mertasinga:

PANEMBAHAN RATU WAFAT 
(pupuh LXIX.19 - LXIX.20)
Dikisahkan kemudian Panembahan Ratu wafat pada waktu usianya genap 140 tahun, yaitu tepat pada babad jaman 1519 (1597 M.) . Panembahan Ratu telah wafat dengan sempurna dan dimakamkan di Giri Serga. Adapun yang menjadi permaisurinya adalah yang bernama Rara Pajang, dengan siapa Panembahan Ratu telah menjalani perkawinannya dengan selamat tanpa gangguan dunia akherat.

PERIHAL PERNIKAHAN PANEMBAHAN GIRILAYA 
(pupuh LXX.09 - LXX.14)
Adapun Arya Jagasatru, yaitu Dipati Ukur Muda, menjadi kesayangan Panembahan karena anak perempuannya yang bernama Ratu Mas Kirani diperistri oleh Panembahan Girilaya. Pasangan ini kemudian melahirkan dua anak yang amat tampan, yang bernama: Pangeran Emas Pakungwati dan Pangeran Anomsada.
Adapun istri Panembahan yang pertama berasal dari negara seberang, negara  Surat, Rara Kerta namanya. Dia lah yang mendirikan dusun Karangdawa dan mempunyai anak Pangeran Sepuh. Diceritakan bahwa Panembahan Giri itu banyak anaknya, yang laki-laki bernama: Pangeran Nataningrat, Pangeran Surajaya,           Pangeran Wiradyasunu, Pangeran Jayanegara, Pangeran Kusumajaya yang membuat padepokan di Kajuwanan. Adapun anak-anak perempuannya lebih banyak lagi, yaitu :          Ratu Demang, sehingga ada tempat bernama Kademangan, Ratu Lor, Ratu Toyamerta,           Ratu Ajeng, Ratu Lindri, Ratu Winahon, Ratu Pecatanda, Ratu Petis, Ratu Bahar, dan          Ratu Ayu Rayahin.
Kebesaran anak-anak ini, anak-cucu raja wali, tidak ada yang menyamai, mereka dilimpahi nurbuat kutub. Mendapatkan keramat dan tidak boleh dihina sebagaimana halnya keturunan yang telah mendapat tuah. Mereka tidak mengejar kebesaran, dan jauh dari pengaruh luar, seperti halnya yang selalu diayomi Sinuhun. Carbon pada waktu itu baru mencapai keturunan wali yang kelima, kebesaran kerajaan telah mulai pudar.

PERNIKAHAN DENGAN ISTERI DARI MATARAM
(pupuh LIX.09 - LIX.11)
Ketika itu Pangeran Carbon berada dibawah kekuasaan Mataram, dia diharuskan seba, menghadap, setiap tahun ke Mataram. Dalam perjalanan itu Pangeran Carbon membawa serta Dewi Tanuran Gagang, ketika Sultan Mataram melihatnya maka sang putri pun segera dimintanya. Setelah Dewi Tanuran Gagang diserahkan kepada Sunan Mataram, maka Pangeran Carbon pun memperoleh gantinya yaitu putri yang bernama Ratu Sidapulin yang kemudian dibawa kembali ke Carbon. Dari perkawinan itu lahir seorang anak laki-laki bernama Pangeran Manis, dan seorang anak perempuan yang diberi nama Ratu Setu.

CATATAN
1.    Panembahan Ratu memerintah tahun 1588 – 1649, kakek dari Panembahan Girilaya, memperistri Ratu Mas Pajang (Ratu Lampok Angroros), putri Jaka Tingkir, Sunan Pajang.
2.    Panembahan Girilaya raja Cirebon memerintah tahun 1649 – 1662, saat itu di Mataram memerintah Amangkurat I yang memerintah tahun 1646-1677, anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memerintah tahun 1613 – 1645.
3.    Surat Thani, atau Ban Don nama propinsi dan juga ibu kotanya di sebelah tenggara Thailand, sebuah pelabuhan di sebelah selatan Bangkok. Surat. Pada abad ke-16 tercatat adanya hubungan dagang antara pelabuhan-pelabuhan  di Jawa dengan luar negeri, yaitu Maladewa, Keling (Coromandel), Surat, Mekkah dan Jedah. Disebutkan bahwa tempat-tempat ini sebagai tempat peristirahatan dalam pelayaran dari Jawa ke Mekkah. Dalam Naskah Kuningan, dikisahkan bahwa pengikut Patih Keling yang kemudian bermukim di Gunung Sembung adalah juga dari negara Surat Thani.

Kamis, 06 Oktober 2011

NASKAH MERTASINGA – PUTRI PAJAJARAN YANG MENUNTUT BALAS ( III )

DEWI TANURAN GAGANG PINDAH KE CARBON
(pupuh LVIII.12 - LVIII.16)
Tersebut bahwa Dalem Jaketra, Raja Lahut, telah meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh anaknya Pangeran Tlutur. Pangeran Tlutur yang kemudian diangkat menjadi Narpati, sangat mencintai Dewi Tanuran Gagang. Akan tetapi setiap kali keduanya hendak melakukan hubungan suami-isteri mereka terganggu oleh keluarnya api dari parji sang Dewi. Oleh karena itu sang Pangeran sudah tak mau lagi berhubungan dengan sang Dewi karena cacatnya itu. Sang Pangeran merasa bahwa sang Dewi sudah tidak ada gunanya lagi dan Dewi Tanuran Gagang pun  sudah pasrah menerima akan kehendak Yang Maha Esa.
Pada suatu ketika Pangeran Jaketra Tlutur pergi ke Carbon ingin bertemu dengan cucu Sinuhun, yang bernama Pangeran Carbon, Waktu itu Dewi Tanuran Gagang dibawa serta ke Carbon. Diceritakan bahwa setelah sampai mereka duduk berdekatan dan Pangeran Carbon jatuh hati kepada Dewi Tanuran Gagang. Pangeran Carbon pun meminta Dewi Tanuran Gagang kepada Pangeran Jaketra yang kemudian merelakannya. Maka sejak  itu Dewi Tanuran Gagang pun tinggal di Carbon.

DEWI TANURAN GAGANG DIAMBIL SULTAN MATARAM 
(pupuh LIX.07 - LIX.11)
Dikisahkan di Pakungwati, Pangeran Carbon ingin bercengkrama dengan Dewi Tanuran Gagang, akan tetapi kembali Dewi Tanuran Gagang mengeluarkan hawa panas membara. Begitulah selalu kejadiannya sehingga Pangeran Carbon pun tidak menghendakinya lagi. Ketika itu Pangeran Carbon berada dibawah kekuasaan Mataram, dia diharuskan seba, menghadap, setiap tahun ke Mataram. Dalam perjalanan itu Pangeran Carbon membawa serta Dewi Tanuran Gagang, ketika Sultan Mataram melihatnya maka sang putri pun segera dimintanya. Setelah Dewi Tanuran Gagang diserahkan kepada Sunan Mataram, maka Pangeran Carbon pun memperoleh gantinya yaitu putri yang bernama Ratu Sidapulin yang kemudian dibawa kembali ke Carbon. Dari perkawinan itu lahir seorang anak laki-laki bernama Pangeran Manis, dan seorang anak perempuan yang diberi nama Ratu Setu.

DEWI TANURAN GAGANG DISERAHKAN KEPADA PEDAGANG BELANDA 
(pupuh LIX.11 - LIX.16)
Pada suatu hari, Sunan Mataram duduk berdua bersama Sunan Kalijaga. Kepada wali ditanyakan mengapa gerangan putri yang diberikan Pangeran Carbon itu tak bisa digauli. "Apakah mungkin karena yang memberikannya tidak rela?", tanya Sultan Mataram. Sunan Kalijaga menjawab, "Bukan begitu anakku, barangkali engkau belum mengetahui bahwa putri itu dari dahulu, sejak menjadi selir Dalem Jaketra, keadaannya memang begitu. Yaitu jika dia dibawa tidur maka dari parjinya akan keluar api". Demikian juga waktu kemudian dibawa ke Carbon sama juga masalahnya". Sunan Mataram berkata, "Bilamana demikian halnya, daripada hanya untuk sekedar dilihat, lebih baik dia dibunuh saja". Sang Wali berkata, "Anakku, janganlah engkau bertindak ceroboh, membunuh orang yang tidak berdosa, itu akan membawa bencana di kemudian hari. Dari pada dibunuh, lebih baik dijual saja kepada pedagang Belanda yang akan pulang berlayar itu". Begitulah Sunan Mataram pun mengikuti nasihat Wali Sunan Kalijaga.

DEWI TANURAN GAGANG DIBAWA KE INGGRIS 
(pupuh LIX.16 - LIX.20)
Dewi Tanuran Gagang kemudian diambil oleh pedagang Belanda, dan ditukar dengan tiga buah meriam yang bernama Sapujagat, yang ada di Mataram, si Antu yang ada di Carbon, dan si Amuk yang ada di Betawi . Asal mula mengapa maka meriam itu dibagi tiga, disebabkan karena Dewi Tanuran Gagang sebelumnya mengabdi kepada ketiga orang itu. Sang putri kemudian dibawa berlayar ke negara Belanda, disana dia beberapa kali berganti tuan karena masalah yang sama, hingga akhirnya ada seorang Belanda yang bernama raja Ngladiwasa, yang tinggal di Inggris dan yang kemudian berhasil menyembuhkannya. Begitulah lama kelamaan Dewi Tanuran Gagang mempunyai anak keturunan yang bermukim di kepulauan Inggris. Dengan demikian permintaan Dewi Mandapa sekarang telah terkabul.
Keturunannya kemudian akan kembali ke tanah Jawa yang akan membalas dendamnya kepada anak cucu dari perusak negaranya, dan para pengikut Arya Lumajang.

CATATAN:
1.    Mengenai kehadiran orang Belanda, Kapten Morgel, sebagai keturunan Dewi Tanuran Gagang telah diuraikan dalam kisah “Pangeran Banten yang menobatkan diri menjadi Sultan” sebagai berikut:
“Masuknya Belanda itu bagaikan racun yang menyusup ke tanah Jawa. Para raja Jawa belum sadar bahwa dalam tubuhnya telah masuk racun itu yang kemudian akan merusaknya. Belanda mencari kesempatan untuk malang melintang dan mengatur raja-raja di Jawa itu merupakan warisan dari leluhurnya. Dahulu Dewi Mandapa, anak raja Pajajaran yang terakhir, yang tak mau masuk agama Islam, anaknya bernama Dewi Tanuran Gagang tinggal di Pulau Inggris. Tanuran Gagang itu bercampur dengan orang kulit putih dan sekarang sudah sampai pada buyutnya, yaitu yang diceritakan bernama Kapten Morgel yang datang minta kedudukan di tanah Jakarta. Dia terikat oleh warisannya yang dahulu, melanjutkan kekuasaan negara Pakuan dan akan mengusik raja-raja Jawa di kemudian hari”.
2.   Pangeran Carbon dimaksud dalam kisah ini adalah Panembahan Ratu sebelum dinobatkan menjadi Panembahan.
3.  Sekarang meriam Sapujagat berada di Jogyakarta, Ki Amuk semula berada di Karangantu kemudian dipindahkan ke halaman mesjid Banten, sedangkan Ki Antu yang lebih dikenal dengan Si Jagur berada di halaman Musium Fatahilah, Jakarta Kota. Menurut legenda bilamana Si Jagur disatukan kembali dengan Ki Amuk maka sebuah kerajaan besar akan lahir.