Tampilkan postingan dengan label Syekh Lemabang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syekh Lemabang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

NASKAH MERTASINGA – PERDEBATAN DENGAN SYEKH LEMABANG ( III )

SYEKH LEMABANG DIJATUHI HUKUMAN 
(pupuh XXXIII.04 - XXXIII.26)           
Dikisahkan kemudian pada bulan Syawal, hari Senin tanggal sembilan, para Wali semua berkumpul di Mesjid Pakungwati. Para Wali melanjutkan pembicaraan mengenai hukuman yang akan dijatuhkan kepada Syekh Lemabang. Berkata Sunan Kudus kepada Ki Badiman, "He engkau Badiman, pergilah cepat kehadapan Syekh Lemabang dan persilahkan beliau datang dengan segera ke Mesjid Pakungwati". Ki Badiman menerima perintah itu dan dia pun segera hilang dari pandangan.
Tidak dikisahkan perjalanannya, Ki Badiman telah tiba di hadapan Syekh Junti, dan Ki Badiman menyampaikan pesan Sunan Kudus, "Kanjeng Tuan Syekh Lemabang, tuan dipersilahkan datang ke Grage". Akan tetapi undangan tersebut dijawab oleh Syekh Lemabang, "Disini tidak ada Syekh Lemabang, yang ada disini adalah Allah". Maka dengan tangan hampa sang utusan itupun segera mohon diri. Setibanya di Grage Ki Badiman segera menyampaikan laporannya kepada Sunan Kudus, "Palamarta Kanjeng Wali, hamba telah diutus memanggil Syekh Lemabang, namun hamba memperoleh jawaban bahwa Syekh Lemabang tidak ada dan yang ada adalah Allah".
Mendengar laporan demikian Sunan Kudus tak dapat menahan dirinya, dia
melompat bangun dan dengan amarah mencabut pedangnya hendak memotong kepala sang utusan. Syekh Magribi dengan tergopoh-gopoh memukul pedang tersebut hingga terpelanting dan Pangeran Kejaksan kemudian datang menenangkan hati Sunan Kudus. Setelah tenang hatinya berkata Syekh Magribi, "He Badiman, bilamana demikian jawabnya, pergilah kembali dan katakan kepada Syekh Lemabang bahwa yang namanya Gusti Allah itu diminta datang kemari dengan cepat, bawalah dia bersamamu".
Demikianlah Ki Badiman pergi lagi dan dikisahkan telah tiba di hadapan Syekh Lemabang. Kemudian kepada Syekh Lemabang, Ki Badiman berkata dengan penuh hormat, "Gusti Allah dipersilahkan datang ke mesjid di Grage". Kali ini mendengar undangan tersebut Syekh Lemabang menjawab, "Yang ada disini adalah Syekh Lemabang". Mendengar itu Ki Badiman pun mohon pamit lagi, dan dia menjadi sangat bingung dalam hatinya. Setibanya di Mesjid Pakungwati, lalu segera menyampaikan jawaban yang didengarnya. "Mohon ampun hamba, hamba telah gagal mengemban perintah tuan. Hamba telah menerima jawaban bahwa sekarang yang bernama Allah itu tidak ada, karena Syekh Lemabang lah yang ada".
Mendengar itu Sunan Kudus sudah tak dapat menahan amarahnya lagi, dia melempar muka Ki Badiman dengan sarungnya. Melihat demikian Sunan Kalijaga tertawa dan kemudian berkata, "Sunan Kudus, mengapa jadi begitu. Melampiaskan amarah kepada panakawan. Kelak tuan akan menerima ajal dari tangan seorang panakawan yang bernama Tanda Jupu". Mendengar hal itu Sunan Kudus tertunduk kepalanya dengan penuh penyesalan. Sunan Giri juga berkata, "Panakawan itu tahu apa".
Begitulah kemudian Sunan Bonang berkata, "He Badiman cepatlah kamu kembali lagi dan katakanlah kepadanya bahwa keduanya dipersilahkan datang". Ki Badiman pun kembali lagi ketempat Syekh Lemabang dan cepatnya ceritera dia sudah tiba di hadapan Syekh Lemabang dan berkata, "Syekh Lemabang beserta Allah keduanya dipersilahkan datang ke Mesjid Agung Grage". Akhirnya Ki Badiman berhasil dan kemudian keduanya pun pergi menuju Grage.
Dikisahkan keduanya telah tiba, dan setelah bertukar salam hormat kepada para wali yang hadir, Syekh Lemabang kemudian duduk. Kemudian Pangeran Kejaksan berkata, "Tuan seperti yang telah disampaikan sebelumnya, tuan akan menerima hukuman". Syekh Lemabang menjawab, "Silahkan hamba dihukum". Maka Syekh Lemabang pun segera diikat. Akan tetapi tali temali itu tak dapat mengikatnya dan terlepas dengan sendirinya dari tubuhnya. Pangeran Majagung kemudian berkata, "Apakah Syekh Junti ini belut, badannya licin tidak bisa diikat. Tidak begitu sifat orang yang luhur". Maka akhirnya tali temali itu dapat mengikat badannya, Syekh Lemabang dibawa keluar dan diikat di bawah pohon Tanjung. Segera Sinuhun Purba menyerahkan kerisnya yang bernama Sangyang Naga kepada Sunan Kudus yang menerimanya untuk melaksanakan hukuman itu.
Keris Sangyang Naga ditusukan ke dada Syekh Lemabang, akan tetapi bagaikan beradu dengan besi landasan, keris itu tak mampu menembus kulitnya, bahkan bagaikan beradunya besi, api memercik dari tubuhnya. Pangeran Makdum kemudian menegur, "Apakah badanmu itu batu ataukah besi ditusuk sampai keluar api. Seharusnya tidaklah demikian orang yang mengaku namanya Allah itu". Setelah dikatakan demikian, maka kerispun kemudian mampu menembus dadanya hingga tembus ke belikat kirinya. Kemudian dari tubuh Syekh Lemabang mengalir darah berwarna putih. Melihat itu Syekh Benthong menegurnya dari kejauhan, "Apakah itu cacing yang darahnya berwarna putih, tidaklah demikian orang yang mengaku dirinya Allah". Maka kemudian mengalirlah darah berwarna merah dari tubuhnya. 
Sejenak terdengar Syekh Lemabang mengerang, "Al Haq, Al Haq". Berkata Sunan Giri, "Yang begitu itu adalah orang kapir, akan tetapi kematiannya sempurna. Entah bagaimana batinnya kelak, akan tetapi telah sempurna dhohirnya". Syekh Majagung berkata, "Batinnya sudah nyata terlihat oleh orang banyak yang menyaksikan". Sinuhun Jati berkata, "Akan menjadi sempurna bilamana terlihat wafatnya". Jenazah itu tiba-tiba musnah tak terlihat bentuknya. Sinuhun Jati lalu berkata, "Apakah ini matinya syetan, bisa hilang dan timbul seperti itu, tidak begitu jenazahnya orang yang mulia". Maka jenazah itu pun tampak kembali seperti seharusnya.
Syekh Lemabang sudah meninggal dengan sempurna di hadapan para Wali. Sunan Kudus berkata, "Orang itu jelek cara meninggalnya, bukankah telah sirna hidupnya". Lalu jenazah itupun menghilang  dengan disertai oleh awan gelap yang meliputi langit dan diikuti hujan lebat. Alam jagat menjadi sangat mencekam, bumi terasa berguncang dan rumah-rumah roboh serta gunung terdengar bergemuruh. Demikian juga pepohonan besar bergoyang mengikuti guncangan gempa bumi.
Kemudian terdengar suara yang ditujukan kepada Pangeran Pasarean, "Pangeran, Raden sudah pasti akan menjadi raja yang mulia, serta tak ada yang berani kepada raja Pakungwati. Memerintahlah dengan tulus mukti serta berwibawa. Tetapi kelak di kemudian hari, anak cucumu berhati-hatilah, janganlah berbuat sewenang-wenang. Akan datang kerbau putih bermata kucing, dari ujung barat datangnya. Saat itu anak cucu kelak tidak ada yang memerintah, dan akan menderita dibawah perintah, serta menjadi jajahan dan budak dari raja yang datang dari orang kebanyakan". Setelah selesai pesan itu, keadaan pun menjadi tenang kembali. Sinuhun Jati sangat berbahagia dan mengucapkan syukur kepada Yang Maha Esa.
Sesudah demikian lalu Sunan Bonang berkata, "Kepada anakku Pangeran Pasarean, anakku seyogyanya mencamkan apa yang telah dikatakan tadi mengenai anak keturunanmu. Karena yang namanya wali itu tidak akan mengulangi kata-katanya". Yang diajak bicara menjawab, "Hamba hanya mohon berkah Kanjeng rama mudah-mudahan anak cucu kelak tidaklah demikian halnya".

Jumat, 09 September 2011

NASKAH MERTASINGA – PERDEBATAN DENGAN SYEKH LEMABANG ( II )

MUSYAWARAH WALI YANG KEDUA DI GUNUNG CARME 
(pupuh XXVII.23 - XXVIII.04)
Segera Walisanga berangkat ke Gunung Carm. Masing-masing menunjukan kekeramatannya dalam melakukan perjalanannya ini. Ada yang pergi bagaikan kilat menyilaukan, ada yang menghilang seperti Dewa Anta, ada yang bersatu dengan angin yang bertiup, dan ada yang terbang diangkasa bersama awan. Ada juga yang perginya bagaikan burung, terbang cepat seperti kilat, ada yang masuk kedalam bumi dan berjalan di dalamnya bagaikan di atas jalan, ada yang pergi dengan mengikuti aliran hawa panas, dan ada pula yang pergi dengan melompat sekali lompatan.
Hanya Sunan Jati Purba yang pergi dengan penuh kesederhanaan. Dia pergi hanya ditemani oleh tongkatnya saja, meskipun begitu para wali semua terkejut ketika melihat bahwa Sunan Jati Purba yang tadi perginya terakhir akan tetapi sampainya lebih dahulu. Para Wali semua mengucap "Subkhanallah", memanjatkan puji bahwa Sunan Jati Purba dekat dengan Yang Maha Esa, dan sudah seharusnyalah bahwa kita mengikuti penghulunya para Aulia di Pulau Jawa, penghulu wali yang sembilan.
Di Gunung Carme Walisanga melakukan musyawarah membicarakan ilmu Ma’rifat yang sejati, melanjutkan pembicaraan terdahulu di Gresik. Dalam pertemuan ini Syekh Lemabang keyakinannya masih kukuh bahwa dirinya adalah Allah, tak dapat diperingatkan lagi mengenai keyakinannya itu. Hangatnya perdebatan hingga Syekh Junti pergi meninggalkan tempat duduknya. Meskipun demikian wali semua masih memaafkannya karena sesuai dengan kesepakatan di Gresik, Syekh Lemabang diberi kesempatan tiga kali untuk merubah keyakinannya dan pertemuan ini baru yang kedua kalinya.
Para Wali kemudian pergi mengikuti Sunan Jati Purba kembali ke Carbon, yaitu membantu mendirikan Masjid Agung Carbon yang letaknya  berhadapan dengan Kraton Pakungwati. Sudah jauh perjalanan Sunan Jati, berpayungkan awan dan Sinuhun Jati mengetahui bahwasanya perjalanannya diikuti oleh pelangi. Sunan Kalijaga pulangnya menaiki Kuda lumping, bergantian bersama muridnya, Sunan Bonang perjalanannya berbaur dengan angin. Sunan Kudus pulangnya mendesing diatas air, Sunan Giri pulangnya masuk kedalam cahaya matahari, sedangkan Syekh Junti pulangnya bagaikan kilat. Syekh Maulana Magrib menaiki kerisnya, Syekh Majagung masuk kedalam tanah, Syekh Benthong berbaur dengan awan. Adapun perjalan Sinuhun Jati diiringi oleh pelangi.

MUSYAWARAH ILMU PARA WALI YANG KETIGA KALINYA 
(pupuh XXXI.17 - XXXII.05)
Begitulah dikisahkan Sinuhun Jati berada di Dalem Pakungwati, pada waktu itu agama Islam sudah berkembang dengan pesatnya. Keadaan negara aman dan sejahtera tidak ada lagi yang membuat onar. Sultan Demak (III) yang pada waktu itu masih berada di Carbon yang tidak lama kemudian mohon pamit kepada Sinuhun Jati untuk kembali ke Demak.
Dikisahkan kemudian bahwa pada hari Jum'at berikutnya semua wali melakukan shalat bersama. Sesudah selesai shalat para wali duduk di beranda  Mesjid Agung Carbon, membicarakan ilmu untuk yang ketiga  kalinya. Seperti halnya dahulu di Giri Gajah, dan kemudian juga di Gunung Carme, dimana mereka semuanya meng-ungkapkan rahasia secara terbuka.
Sunan Bonang berkata:
"Kang nama Allah iku, dede dzat kang sinembah nanging kang sinembah iku pan ora nana jatine liyane maning"
Sunuhun Jati berkata:
"Kang nama Allah iku, setuhune ingkang kagungan, wajib mokhal wenang".
Sunan Kali berkata:
"Kang nama Allah iku, sajatine kang andulu, kang dinulu, tan ana liyane maning".
Syekh Benthong berkata:
"Kang nama Allah iku dede iku, nanging ika pan dede ika".
Pangeran Kajaksan berkata:
"Kang nama Allah iku, ya iku pan dede ika, ya iku kang aran jasad, yen ta ana kang jasad, pasthine ya iku uga".
Syekh Majagung berkata:
"Kang nama Allah iku, nyatane boten wonten nanging dzat kang asma kang tunggal. Tan ana roro tetelu, dadine tunggal tan tunggal".
Sunan Giri berkata:
"Kang nama Allah iku, lara gambare ngulahaken wong, sapa weruh aran nisun,  yen ta'sun aran nana dewek, lah iku aran nisun. Nanging saiku wis pened nama nisun, jejuluk Prabu Sasamat".
Pangeran Makdum berkata:
"Kang nama Allah iku, ora arah ora enggon, nanging pasti ing nganane".
Sunan Kudus berkata:
“Kang nama Allah iku, tan ana wiwilangane, kadi ta anggen ing sare, esuk sore nang mangsa".
Maulana Magrib berkata:
"Kang nama Allah iku, inggih punika, nanging dede kang jasad, yen tan ana jasad yaktine punika".
Syekh Lemabang dengan sangat angkuh berkata:
"Mapan ya isun iki, ingkang nama Allah, ning ngendi wis nana liyan, liyane sing isun iki". (Ya aku inilah yang bernama Allah, dimana-mana tidak ada lainnya lagi kecuali aku ini).

Mendengar itu Pangeran Kejaksan berkata: "Badan anda itu kan berwujud, mustahil Allah berbentuk rupa". Syekh Lemabang menjawab dengan sengit, "Tidak, aku ini senyata-nyatanya adalah Allah. Kamu tidak membawaNya, lagi pula dimana lagi adaNya, kan tidak ada selainnya aku". Pangeran Kejaksan berkata dengan lembut, "Paduka tuan, jangan berkata demikian nanti tuan akan memperoleh hukuman".
Syekh Lemabang menjawab lagi, "Aku tidak takut dihukum, aku berani kapan saja dijatuhkannya hukuman itu. Akan tetapi aku ini senyatanya adalah Allah". Sunan Kudus berkata, "Hukuman pasti akan dijatuhkan". Dijawab oleh Syekh Lemabang, "Jangan banyak bicara, kapan saja boleh dilaksanakan", sambil pergi meninggalkan para wali dan berkata lagi, "Besok berani sekarang pun berani, sudah sepatutnya aku mempertahankan tekadku", begitulah dikisahkan (bersambung).

Jumat, 02 September 2011

NASKAH MERTASINGA – PERDEBATAN DENGAN SYEKH LEMABANG ( I )

WALISANGA MENGHADIRI WAFATNYA SUNAN AMPEL 
(pupuh XXII.48 - XXII.53)
Kita tinggalkan dahulu kisah mengenai Carbon, Sinuhun Purba diminta untuk datang ke timur karena diperoleh khabar bahwa Sunan Ampel telah wafat. Para Wali yang sembilan semuanya datang berkumpul disana untuk mengurus dan menyempurnakan jenazah Sunan Ampel, yang kemudian dimakamkan di Ampel Denta. Sesudah itu para wali berkumpul di tempatnya Sunan Giri Gajah di Gresik. Wali yang sembilan sama-sama akan membicarakan ilmunya, ilmu Walisanga yang ma’rifat. Para wali yang berkumpul yaitu: Sunan Bonang, Syekh Majagung, Sunan Jati Purba, Syekh Benthong, Sunan Kalijaga, Syekh Maulana Magribi, Syekh Lemabang, Sunan Giri, dan Sunan Kudus .

PERDEBATAN PARA WALI DENGAN SYEKH LEMABANG ( I ) 
(pupuh XXII.54 - XXIII.08)
Dalam pertemuan ini kemudian Walisanga bersepakat untuk bertukar pikiran menyingkapkan rahasia, dan membicarakan hal yang sudah sama-sama diketahuinya, amingkis tedeng-megat balabare dipun sami aliman mutakaliman (menyingkapkan tabir penghalang, menguraikannya untuk sama-sama diketahui), masing-masing akan mengungkapkannya secara terbuka. Dengan kesepakatan seperti itu, satu persatu para wali itu menyampaikan pendapatnya. 
Sunan Bonang berkata :
"Kang aran Allah iku, ya Allah jatine dede dzat  kang sinembah kang disembah boten wonten sanes sipun, inggih punika tekad kula".
Syekh Majagung berkata :
"Kang aran Allah iku nyatane boten wonten anging dzat kang asih kang tunggal tan ana roro tetelu, punika tekad kula".          
Sinuhun Jati berkata :
"Kang aran Allah iku Pangeran kang darbe warna, ing warnane kang sipate kuline wajib mokhal wenang, inggih punika tekad kula".
Sunan Kalijaga berkata :
"Kang aran Allah iku tan ana sanes anging dzat kang tumunggal inggih kang tinenggalan ing siang lawan dalu, inggih punika tekad kula".
Syekh Benthong berkata :
"Kang aran Allah iku jatine inggih  punika tan liyan nanging dede punika ing sajati jati nipun inggih punika tekad kula"
Syekh Maulana Magrib berkata :
"Kang aran Allah iku inggih punika jatine nanging dede kang jasad yenta tan wonten jasad yaktine inggih puniku, punika tekad kula".
Sunan Giri berkata :
"Kang aran Allah iku lar gumbumulah wayange sapa waraha aran nanging yen ta sun arana yaiku nama nisun nanging samangko pened ana nisun kang sajati jujuluk Prabu Sasamat, inggih punika tekad kula".
Sunan Kudus berkata :
"Kang aran Allah iku punika kados anggen ing sare enjang sonten nipun ing tenggele ing bedane tan beda, inggih punika tekad kula".
Syekh Lemabang, dengan suara keras berkata :
"Iya isun kang aran Allah iki, ora nana roro telu, ing ngendi ana maning ingkang nama Allah saliyane saking ngisun". (Akulah yang bernama Allah itu, tidak ada dua tiganya dimana lagi ada yang namanya Allah selain aku).

Maulana Magrib memotong: "Ini namanya jisim, mustahil Allah itu berbentuk". Syekh Lemabang menjawab dengan membentak, "Aku tidak ingin menutup-nutupi, bukankah tadi sudah sepakat bahwa kita akan membuka diri tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mengapa sekarang jadi begini bukankah itu namanya mementahkan kesepakatan".
Maulana Magrib berkata: "Tuan Syekh Lemabang, tuan akan mendapat hukuman kalau masih berpikir seperti itu". Syekh Lemabang dengan keras menjawab: "Aku tidak takut. Sekarang berani nanti pun aku berani, tidak akan aku bergeser dari keyakinanku. Kapan saja dijatuhkan hukuman itu kepadaku, aku tidak takut, aku ini sudah sedia untuk mati".  Syekh Benthong berkata: "Pastinya tuan ini sudah menjadi orang kafir, dan patut dimusnahkan kalau tekadnya seperti itu".
Sunan Jati berkata: "Perihal menjatuhkan hukuman kepada Syekh Junti, aku minta tuan-tuan bersabar dahulu. Karena ini baru pertama kalinya, seharusnya para wali dapat memaafkannya. Kalau nanti sampai kelak begitu terus tidak menghiraukan nasihat, dan melawan sampai tiga kali, maka baru patut untuk dihukum mati". Syekh Benthong turut menengahi dan berkata: "Betul sekali apa yang dikatakan Nata Carbon ini, karena sebelum kita membunuh kadang-kadang harus mendengarkan  kepada orang yang lupa itu dan memberinya kesempatan untuk meminta tobat. Sungguh Allah itu Maha Pemaaf, sifat-Nya Rachman dan Rochim, oleh karena itu sekarang aku minta kepada semuanya untuk melupakan dan mohon kesabarannya". Walisanga semua akhirnya sepakat dan mufakat mengenai penyelesaian masalah ini.
(bersambung).