Jumat, 19 Agustus 2011

NASKAH MERTASINGA - KEHADIRAN BENTENG BELANDA DI CARBON

Dalam kisah berdirinya Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman telah diceriterakan mengenai mulai dihancurkannya kutha Carbon yang dibangun oleh Sunan Demak II (Pangeran Trenggana) pada masa Sunan Gunung Jati dan mulai dibangunnya benteng “De Bescherming” di pinggir pantai. Dengan demikian hilanglah tembok pusaka dan diganti dengan munculnya benteng Belanda yang menjaga Sultan Carbon. Mengenai hal ini dikisahkan juga dalam  bab “Kisah Pangeran Kusumajaya” (pupuh LXXIX.01 – LXXIX.18) sebagai berikut:

Diceritakan ada salah seorang saudara Sultan yang lahir dari selir, yang bernama Pangeran Kusumajaya. Dia memperdalam ilmu sufi, demikian khusuknya sehingga melupakan anak istri dan rumah tangganya. Pangeran Kusumajaya bertapa dengan amat taat sehingga membuat segala kehendaknya terkabul, segala keinginannya dikabulkan oleh Yang Agung. Dia bisa terbang di angkasa dan bisa masuk ke dalam bumi, dia juga bisa merubah dirinya menjadi wujud lain. Jika melakukan  perjalanan dia akan sampai dalam sekejap. Sudah tak terhitung lagi banyak ilmunya. Kesenangannya disamping memperdalam ilmu sufi ialah menonton wayang yang dilakonkan oleh dalang yang pandai.
Begitulah pada suatu ketika dia berjalan-jalan di pinggir laut dan kemudian memasuki kota dimana dia berjumpa dengan kedua Sultan yang sedang melihat-lihat benteng yang dibangun Belanda. Pangeran Kusumajaya berkata kepada kedua adiknya, "He adikku, ini semua untuk apa. Ini hanya akan membuat lengah adinda saja". Ketika berkata demikian dengan mencemooh dia menggoyang-goyangkan tembok benteng yang dibangun Belanda itu. Benteng itu seperti akan rubuh, bergoyang-goyang, sepertinya memberi peringatan kepada kedua adiknya yang telah menjadi sombong karena bergaul dengan Belanda itu. "Adinda mengapa menjadi sombong begini dengan membuat benteng dan memasang meriam".
Kedua Sultan berkata, "Kakanda janganlah begitu, benteng ini lumayan untuk menakuti-nakuti orang bodoh. Adapun kakanda Kusuma, bilamana kakanda tidak berkenan melihat ini semua, sebaiknya ya jangan ikut-ikut. Kakanda menyingkirlah saja ke tempat yang jauh dahulu". Pangeran Kusuma mengikuti usul adiknya itu dan kemudian menyingkir ke tempat yang sepi. Dia tidur di Kajuwanan, akan tetapi dikisahkan bahwa rohnya berubah menjadi Raja Topeng Baladewa yang berkuasa di pantai selatan, di Bumi Cidamar. Dia berkuasa di sana dengan nama Sunan Perwata. Bala tentaranya berdatangan sendiri dan tinggal di daerah Cidamar itu”…, dst.

Mengenai benteng ini sumber lain ditulis oleh Dr. H.J. De Graff dalam bukunya:  
“Setelah selesainya perang Trunajaya pada tahun 1679 dan ditumpasnya pemberontakan Panembahan Giri pada 1680 serta laskar Makasar pada 1682, maka sebagai imbalan Kompeni memiliki sederetan loji di sepanjang pantai utara kerajaan Mataram yang umumnya diperkuat dengan benteng untuk menangkis serangan bumiputra. Diantaranya di Carbon pada tahun 1686 dibangun sebuah benteng bernama De Bescherming (Perlindungan) untuk melindungi kepentigan Kompeni disana. Benteng ini berfungsi juga sebagai tempat tinggal bagi orang-orang Belanda yang ada di Carbon hingga tahun 1835, saat mana benteng tersebut terbakar” (Graff,1989:7).

Berikut adalah catatan J.J.Stockdale dalam bukunya “Island of Java” mengenai benteng ini:
"On the right bank of the river, and on the sea-side, is a small brick fort, surrounded by a fosse, over which is a bridge with a redoubt. The fort is of little consequence; its embrasure parapet is but eighteen inches thick. It is defended by four bad small guns, which serve rather to secure the Dutch flag and answer the salutes of the ships which pass or come in, than as a defense against an enemy, who might choose to take possession of it and establish himself there" (Stockdale,1995:404).
Selanjutnya dalam sumber yang sama juga ditulis: "On the part of the company, as much care is taken as possible to prevent the contravention of these conditions; and they have a resident here with a garrison of 20 Europeans, station in small fort in the district of Cheribon, whilst there is also an out-post stationed at Indramayu. These empire put itself under the protection of the company in the year 1680. In criminal maters the administrative is under combined authority of the two princesses and the company's resident. In 1776-1777 the establishment of Cheribon consist of 98 European, namely: 14 civil servants, 1 clergyman, 3 surgeons, 2 artillerymen, 15 seamen, 60 soldiers and 3 mechanics" (Stockdale,1995:224-226).

Bekas Benteng tersebut sekarang berada di Jalan Benteng dan dipergunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan (di samping kantor Pelabuhan Cirebon).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar